Jumat, 22 Agustus 2014

Profil Ir. Ridho Budiman Utama



Ridho Budiman Utama dilahirkan di Purwakarta pada tanggal 8 Agustus 1962. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di daerah kelahirannya, suami dari Ir. Ade Nurbaeti dan ayah dari empat orang anak ini melanjutkan pendidikan tinggi ke Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Bandung.
Sebagai cucu dan anak seorang guru, Ridho memiliki perhatian yang besar pada dunia pendidikan. Diawali dengan menerapkan pola pendidikan berkarakter pada anak-anaknya, selanjutnya Ridho merealisasikan idealisme pendidikannya di sekolah-sekolah Islam terpadu yang dirintisnya. Hingga saat ini, Ridho dikenal sebagai salah satu tokoh pendidikan yang berhasil mencetak sejumlah sekolah Islam terpadu di Jawa Barat seperti Lukmanul Hakim, Baitul Anshor, Fitrah Insani, dan Cipta Cendekia Indonesia. Hingga saat ini, Ridho masih menjadi rujukan utama konsultasi bagi para pengelola sekolah Islam di berbagai.Dalam berbagai kesempatan, Ridho selalu diundang untuk hadir dalam forum-forum rapat/musyawarah sekolah untuk memberikan arahan dan dimintai pendapatnya.
Bakat kepemimpinan Ridho sudah terasah sejak di bangku sekolah, mulai dari pengalaman sebagai Ketua OSIS hingga sejumlah aktivitas organisasi di kampus.Inilah yang kemudian menjadi bekal bagi Ridho untuk menapaki amanah di bidang politik sejak era reformasi bergulir.
Setelah sempat menjabat sebagai Ketua DPD Partai Keadilan (kini Partai Keadilan Sejahtera) Kabupaten Bandung, ia langsung ditarik masuk ke dalam struktur DPW PKS Jawa Barat sebagai Sekretaris Majelis Pertimbangan Wilayah sekaligus memimpin Tim Pemenangan Pemilu Wilayah Jawa Barat (tahun 2002-2009).Mengawali amanah politiknya sebagai anggota DPRD Kabupaten Bandung pada tahun 1999, Ridho mampu memberi warna pada suasana pemerintahan.Ridho dikenal sebagai anggota legislatif yang muda, cerdas, dan bersih.Ridho pandai menjalin komunikasi politik di internal lembaga legislatif, dengan bupati dan para birokrat di lembaga eksekutif, dan dengan berbagai pihak/lembaga stakeholder pemerintahan lainnya. Bahkan ia berhasil mengagendakan sebuah pertemuan rutin “pengajian” pekanan dengan para kepala dinas sehingga tercipta hubungan interpersonal yang harmonis dan berdampak positif terhadap jalannya pemerintahan.
Berpindah tugas menjadi Ketua Komisi D DPRD Kota Cimahi pada tahun 2001, Ridho pun kembali menunjukkan kualitas dan integritas dirinya. Pengakuan yang didapatnya di Kota Cimahi sama dengan yang didapat ketika ia masih bertugas di Kabupaten Bandung. Secara langsung dan tidak langsung, citra positif yang nyata ditunjukkan oleh Ridho turut menjadi daya ungkit bertambahnya jumlah aleg PKS di DPRD Kota Cimahi yang awalnya hanya seorang (dirinya) menjadi delapan orang.Ridho kemudian terpilih sebagai Wakil Ketua DPRD Kota Cimahi 2004-2009.Ridho selalu berhasil membangun komunikasi politik yang sehat, bahkan komunikasi secara pribadi dengan Walikota Cimahi pun terjalin sangat baik.
Meskipun sudah berpindah tugas, kehadiran Ridho di Kabupaten Bandung selalu dinanti.Terbukti dari permintaan berbagai pihak yang membawanya dua kali masuk dalam arena Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Bandung.Meskipun kalah dalam dua kali ajang Pilkada tersebut, Ridho berhasil menunjukkan kompetisi yang sehat dan membanggakan dalam menghadapi incumbent dan dinasti politik.Bagi kader dan konstituen PKS di Kabupaten Bandung, kekalahan ini justru menjadi pembangkit semangat dan diyakini menjadi investasi politik yang besar di kemudian hari.
Di daerah mana pun Ridho selalu diterima dengan baik dan selalu menjadi “rebutan”. Ridho sempat diminta untuk ikut dalam ajang Pilkada Kota Cimahi, namun ia menolaknya karena sudah lebih dahulu ikut dalam Pilkada Kabupaten Bandung. Yang mengejutkan, pada Pemilu 2009 yang lalu Ridho tidak dipasang sebagai caleg di Dapil Jabar I (Kota Bandung dan Kota Cimahi) atau di Dapil Jabar II (Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat) atau di tempat kelahirannya di Dapil VIII (Kabupaten Karawang dan Kabupaten Purwakarta), tetapi dilempar ke Dapil Jabar IX (Kabupaten Subang, Kabupaten Sumedang, dan Kabupaten Majalengka) dengan sebuah amanah untuk memperkuat PKS di basis merah. Namun sekali lagi Ridho mampu menunjukkan kualitas dan integritas dirinya, ia berhasil meraih kemenangan di kampung halaman sang istri. Untuk Pemilu 2014 nanti, justru struktur PKS di Subang, Sumedang, dan Majalengka bersikukuh untuk mempertahankan Ridho di Dapil Jabar IX karena dinilai berhasil membangun kerja sama yang baik antara pemerintah provinsi dan ketiga kabupaten tersebut.
Menjalankan peran sebagai anggota legislatif tidaklah mudah.Stigma negatif pun harus Ridho hadapi.Di tengah-tengah kondisi masyarakat yang semakin kritis dalam berpikir dan bertindak, kinerja anggota legislatif terus menjadi sorotan.Kondisi tersebut sangat terasa ketika Ridho melaksanakan kegiatan reses untuk menyerap aspirasi langsung dari masyarakat.Berbagai hujatan dari peserta selalu mewarnai forum pertemuan reses.
Pada umumnya peserta menilai bahwa kinerja anggota legislatif nol besar, janji tinggal janji, setelah terpilih maka lupa pada masyarakat, dan sebagainya.Namun Ridho selalu menanggapinya dengan santun.Satu-persatu permasalahan diurai dan dijelaskan.Ridho selalu menjadikan forum reses sebagai media untuk pendidikan politik. Alhasil, peserta yang tadinya hadir di forum reses dengan tujuan untuk menghujat, melampiaskan kekesalannya, dan bahkan mempermalukan anggota legislatif di depan publik, justru pulang dengan sikap yang positif dan pemikiran yang tercerahkan.  
Dalam dua kali ajang Pemilihan Gubernur Jawa Barat, Ridho menjadi motor penggerak tim sukses yang pada akhirnya berhasil mengantarkan pasangan “HADE” Ahmad Heryawan-Dede Yusuf sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat 2008-2013 dan pasangan “Kancing Beureum” Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat 2013-2018. Di balik kemenangan pasangan “HADE” Ahmad Heryawan-Dede Yusuf, Ridho adalah orang yang mampu merubah citra HADE sebagai new comers yang dipandang sebelah mata menjadi pasangan terpilih oleh masyarakat Jawa Barat. Ketika pasangan “Kancing Beureum” Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar diserang black campaign yang secara tidak logis/proporsional menghubung-hubungkan Ahmad Heryawan sebagai kader PKS dengan fitnah-fitnah “korupsi daging sapi”.
Ridho adalah salah seorang sahabat Ahmad Heryawan yang secara konsisten memberi penguatan hingga akhirnya pasangan “Kancing Beureum” tersebut meraih kemenangan.Dalam banyak hal, Ridho adalah orang yang hampir setiap hari dan setiap waktu dihubungi langsung oleh Ahmad Heryawan untuk dimintai saran dan masukannya.
Ridho adalah orang yang sangat concern pada pemberdayaan ekonomi mikro/kecil.Beberapa perusahaan penerbitan, percetakan, dan multimedia tumbuh berkembang dari sebuah penerbitan bulletin jumat yang dirintis olehnya. Dalam mengisi berbagai forum seminar dan pelatihan, Ridho sering menyampaikan bagaimana ia masih ingat dengan jelas ketika di awal-awal harus memikul kertas, mencetak sendiri dengan mesin yang seadanya, mendistribusikan bulletin ke masjid-mesjid, dan semua susah-payahnya dalam episode-episode rintisan tersebut.
 memotivasi, Ridho selalu mengajak peserta untuk mengembangkan potensi dan mengasah minat/bakat.Tidak banyak orang yang tahu bagaimana seorang sarjana seperti dirinya sempat mengalami kesulitan ekonomi keluarga, bahkan sampai tidak punya uang untuk membayar kontrakan rumah. Namun apa yang terjadi? Ternyata dari hobi dan keterampilan sablon yang dimilikinya, Ridho berhasil mengumpulkan uang dan bertahan hidup bersama keluarga.
Konsep pemberdayaan ekonomi umat ia terapkan dalam merintis usaha sablon, industri konpeksi dan bordir, hingga sejumlah lembaga keuangan mikro syariah koperasi. Saat ini, di bawah naungan corporate Creative Media Utama, Ridho membangun jaringan usaha mikro/kecil dan usaha ekonomi kreatif dengan visi pemberdayaan ekonomi kerakyatan untuk menyerap banyak tenaga kerja dan membentuk jejaring usaha.
Selain concern pada ekonomi kerakyatan, Ridho pun concern pada pemberdayaan masyarakat. Ridho selalu mendorong para pemuda binaannya untuk aktif dalam pemberdayaan masyarakat melalui keikutsertaan dalam sejumlah lembaga/organisasi ataupun mendirikan sendiri lembaga/ organisasinya.Tiga bidang garapan yang menjadi fokus adalah pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.Selain kesuksesannya melahirkan sejumlah lembaga dan insan-insan pendidikan, Ridho pun berhasil mendorong para binaannya menjadi tenaga-tenaga filantropis di bidang pemberdayaan kesehatan masyarakat.
Ridho tidak pernah lupa bahwa dirinya adalah seorang insinyur pertanian.Meskipun tidak turun langsung ke sawah/ladang, tapi dengan posisi jabatan publiknya Ridho selalu mendorong majunya pembangunan di sektor pertanian.Berbagai kebijakan program dan keberpihakan anggaran pembangunan di sektor pertanian selalu diupayakan dan disinergikan dengan pemerintah daerah.Hingga saat ini, Ridho aktif membina sejumlah Gapoktan/Poktan, khususnya dalam aspek keorganisasian dan manajemennya. Ridho yang mengantongi gelar insinyur pertanian UNPAD dan saat ini sedang merampungkan studi lanjutnya di IPB sangat yakin dan memandang perlu bagi para petani untuk berkelompok dan berorganisasi menuju pertanian modern. (red)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar