Ridho Budiman Utama dilahirkan
di Purwakarta pada tanggal 8 Agustus 1962. Setelah menyelesaikan pendidikan
dasar dan menengah di daerah kelahirannya, suami dari Ir. Ade Nurbaeti dan ayah
dari empat orang anak ini melanjutkan pendidikan tinggi ke Fakultas Pertanian
Universitas Padjadjaran, Bandung.
Sebagai cucu dan anak seorang
guru, Ridho memiliki perhatian yang besar pada dunia pendidikan. Diawali dengan
menerapkan pola pendidikan berkarakter pada anak-anaknya, selanjutnya Ridho
merealisasikan idealisme pendidikannya di sekolah-sekolah Islam terpadu yang
dirintisnya. Hingga saat ini, Ridho dikenal sebagai salah satu tokoh pendidikan
yang berhasil mencetak sejumlah sekolah Islam terpadu di Jawa Barat seperti
Lukmanul Hakim, Baitul Anshor, Fitrah Insani, dan Cipta Cendekia Indonesia.
Hingga saat ini, Ridho masih menjadi rujukan utama konsultasi bagi para
pengelola sekolah Islam di berbagai.Dalam berbagai kesempatan, Ridho selalu
diundang untuk hadir dalam forum-forum rapat/musyawarah sekolah untuk
memberikan arahan dan dimintai pendapatnya.
Bakat kepemimpinan Ridho sudah
terasah sejak di bangku sekolah, mulai dari pengalaman sebagai Ketua OSIS
hingga sejumlah aktivitas organisasi di kampus.Inilah yang kemudian menjadi
bekal bagi Ridho untuk menapaki amanah di bidang politik sejak era reformasi
bergulir.
Setelah sempat menjabat sebagai
Ketua DPD Partai Keadilan (kini Partai Keadilan Sejahtera) Kabupaten Bandung,
ia langsung ditarik masuk ke dalam struktur DPW PKS Jawa Barat sebagai
Sekretaris Majelis Pertimbangan Wilayah sekaligus memimpin Tim Pemenangan
Pemilu Wilayah Jawa Barat (tahun 2002-2009).Mengawali amanah politiknya sebagai
anggota DPRD Kabupaten Bandung pada tahun 1999, Ridho mampu memberi warna pada
suasana pemerintahan.Ridho dikenal sebagai anggota legislatif yang muda,
cerdas, dan bersih.Ridho pandai menjalin komunikasi politik di internal lembaga
legislatif, dengan bupati dan para birokrat di lembaga eksekutif, dan dengan
berbagai pihak/lembaga stakeholder pemerintahan lainnya. Bahkan ia
berhasil mengagendakan sebuah pertemuan rutin “pengajian” pekanan dengan para
kepala dinas sehingga tercipta hubungan interpersonal yang harmonis dan
berdampak positif terhadap jalannya pemerintahan.
Berpindah tugas menjadi Ketua
Komisi D DPRD Kota Cimahi pada tahun 2001, Ridho pun kembali menunjukkan
kualitas dan integritas dirinya. Pengakuan yang didapatnya di Kota Cimahi sama
dengan yang didapat ketika ia masih bertugas di Kabupaten Bandung. Secara
langsung dan tidak langsung, citra positif yang nyata ditunjukkan oleh Ridho
turut menjadi daya ungkit bertambahnya jumlah aleg PKS di DPRD Kota Cimahi yang
awalnya hanya seorang (dirinya) menjadi delapan orang.Ridho kemudian terpilih
sebagai Wakil Ketua DPRD Kota Cimahi 2004-2009.Ridho selalu berhasil membangun
komunikasi politik yang sehat, bahkan komunikasi secara pribadi dengan Walikota
Cimahi pun terjalin sangat baik.
Meskipun sudah berpindah tugas,
kehadiran Ridho di Kabupaten Bandung selalu dinanti.Terbukti dari permintaan
berbagai pihak yang membawanya dua kali masuk dalam arena Pemilihan Bupati dan
Wakil Bupati Bandung.Meskipun kalah dalam dua kali ajang Pilkada tersebut,
Ridho berhasil menunjukkan kompetisi yang sehat dan membanggakan dalam
menghadapi incumbent dan dinasti politik.Bagi kader dan konstituen PKS
di Kabupaten Bandung, kekalahan ini justru menjadi pembangkit semangat dan
diyakini menjadi investasi politik yang besar di kemudian hari.
Di daerah mana pun Ridho selalu
diterima dengan baik dan selalu menjadi “rebutan”. Ridho sempat diminta untuk
ikut dalam ajang Pilkada Kota Cimahi, namun ia menolaknya karena sudah lebih
dahulu ikut dalam Pilkada Kabupaten Bandung. Yang mengejutkan, pada Pemilu 2009
yang lalu Ridho tidak dipasang sebagai caleg di Dapil Jabar I (Kota Bandung dan
Kota Cimahi) atau di Dapil Jabar II (Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung
Barat) atau di tempat kelahirannya di Dapil VIII (Kabupaten Karawang dan
Kabupaten Purwakarta), tetapi dilempar ke Dapil Jabar IX (Kabupaten Subang,
Kabupaten Sumedang, dan Kabupaten Majalengka) dengan sebuah amanah untuk
memperkuat PKS di basis merah. Namun sekali lagi Ridho mampu menunjukkan
kualitas dan integritas dirinya, ia berhasil meraih kemenangan di kampung
halaman sang istri. Untuk Pemilu 2014 nanti, justru struktur PKS di Subang,
Sumedang, dan Majalengka bersikukuh untuk mempertahankan Ridho di Dapil Jabar
IX karena dinilai berhasil membangun kerja sama yang baik antara pemerintah
provinsi dan ketiga kabupaten tersebut.
Menjalankan peran sebagai
anggota legislatif tidaklah mudah.Stigma negatif pun harus Ridho hadapi.Di
tengah-tengah kondisi masyarakat yang semakin kritis dalam berpikir dan
bertindak, kinerja anggota legislatif terus menjadi sorotan.Kondisi tersebut
sangat terasa ketika Ridho melaksanakan kegiatan reses untuk menyerap aspirasi
langsung dari masyarakat.Berbagai hujatan dari peserta selalu mewarnai forum
pertemuan reses.
Pada umumnya peserta menilai
bahwa kinerja anggota legislatif nol besar, janji tinggal janji, setelah
terpilih maka lupa pada masyarakat, dan sebagainya.Namun Ridho selalu
menanggapinya dengan santun.Satu-persatu permasalahan diurai dan
dijelaskan.Ridho selalu menjadikan forum reses sebagai media untuk pendidikan
politik. Alhasil, peserta yang tadinya hadir di forum reses dengan tujuan untuk
menghujat, melampiaskan kekesalannya, dan bahkan mempermalukan anggota
legislatif di depan publik, justru pulang dengan sikap yang positif dan
pemikiran yang tercerahkan.
Dalam dua kali ajang Pemilihan
Gubernur Jawa Barat, Ridho menjadi motor penggerak tim sukses yang pada
akhirnya berhasil mengantarkan pasangan “HADE” Ahmad Heryawan-Dede Yusuf
sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat 2008-2013 dan pasangan “Kancing
Beureum” Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa
Barat 2013-2018. Di balik kemenangan pasangan “HADE” Ahmad Heryawan-Dede Yusuf,
Ridho adalah orang yang mampu merubah citra HADE sebagai new comers yang
dipandang sebelah mata menjadi pasangan terpilih oleh masyarakat Jawa Barat.
Ketika pasangan “Kancing Beureum” Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar diserang black
campaign yang secara tidak logis/proporsional menghubung-hubungkan Ahmad
Heryawan sebagai kader PKS dengan fitnah-fitnah “korupsi daging sapi”.
Ridho adalah salah seorang
sahabat Ahmad Heryawan yang secara konsisten memberi penguatan hingga akhirnya
pasangan “Kancing Beureum” tersebut meraih kemenangan.Dalam banyak hal, Ridho
adalah orang yang hampir setiap hari dan setiap waktu dihubungi langsung oleh
Ahmad Heryawan untuk dimintai saran dan masukannya.
Ridho adalah orang yang sangat concern
pada pemberdayaan ekonomi mikro/kecil.Beberapa perusahaan penerbitan,
percetakan, dan multimedia tumbuh berkembang dari sebuah penerbitan bulletin
jumat yang dirintis olehnya. Dalam mengisi berbagai forum seminar dan
pelatihan, Ridho sering menyampaikan bagaimana ia masih ingat dengan jelas
ketika di awal-awal harus memikul kertas, mencetak sendiri dengan mesin yang
seadanya, mendistribusikan bulletin ke masjid-mesjid, dan semua susah-payahnya
dalam episode-episode rintisan tersebut.
memotivasi, Ridho selalu mengajak peserta
untuk mengembangkan potensi dan mengasah minat/bakat.Tidak banyak orang yang
tahu bagaimana seorang sarjana seperti dirinya sempat mengalami kesulitan
ekonomi keluarga, bahkan sampai tidak punya uang untuk membayar kontrakan
rumah. Namun apa yang terjadi? Ternyata dari hobi dan keterampilan sablon yang
dimilikinya, Ridho berhasil mengumpulkan uang dan bertahan hidup bersama
keluarga.
Konsep pemberdayaan ekonomi umat
ia terapkan dalam merintis usaha sablon, industri konpeksi dan bordir, hingga
sejumlah lembaga keuangan mikro syariah koperasi. Saat ini, di bawah naungan corporate
Creative Media Utama, Ridho membangun jaringan usaha mikro/kecil dan usaha
ekonomi kreatif dengan visi pemberdayaan ekonomi kerakyatan untuk menyerap
banyak tenaga kerja dan membentuk jejaring usaha.
Selain concern pada
ekonomi kerakyatan, Ridho pun concern pada pemberdayaan masyarakat.
Ridho selalu mendorong para pemuda binaannya untuk aktif dalam pemberdayaan
masyarakat melalui keikutsertaan dalam sejumlah lembaga/organisasi ataupun
mendirikan sendiri lembaga/ organisasinya.Tiga bidang garapan yang menjadi
fokus adalah pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.Selain kesuksesannya melahirkan
sejumlah lembaga dan insan-insan pendidikan, Ridho pun berhasil mendorong para
binaannya menjadi tenaga-tenaga filantropis di bidang pemberdayaan kesehatan
masyarakat.
Ridho tidak pernah lupa bahwa
dirinya adalah seorang insinyur pertanian.Meskipun tidak turun langsung ke
sawah/ladang, tapi dengan posisi jabatan publiknya Ridho selalu mendorong
majunya pembangunan di sektor pertanian.Berbagai kebijakan program dan
keberpihakan anggaran pembangunan di sektor pertanian selalu diupayakan dan
disinergikan dengan pemerintah daerah.Hingga saat ini, Ridho aktif membina
sejumlah Gapoktan/Poktan, khususnya dalam aspek keorganisasian dan
manajemennya. Ridho yang mengantongi gelar insinyur pertanian UNPAD dan saat
ini sedang merampungkan studi lanjutnya di IPB sangat yakin dan memandang perlu
bagi para petani untuk berkelompok dan berorganisasi menuju pertanian
modern. (red)